BAB
I
PENDAHULUAN
A. Judul
Penelitian
PERANAN MAJLIS TA’LIM BAABUSSALAM
DALAM PENINGKATAN KUALITAS KEAGAMAAN ANAK-ANAK DESA SIDOMORO KECAMATAN BULUSPESANTREN
KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2009
B. Latar
Belakang
Pendidikan merupakan peran
yang sangat penting untuk menjamin kehidupan suatu bangsa. Pendidikan juga
menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa, dan menjadi cermin kepribadian
masyarakatnya. Demikian juga dengan masyarakat Sidomoro dari anak-anak sampai
orang tua, hampir seluruh masyarakatnya selalu menuntut ilmu baik dalam
pendidikan formal maupun nonformal.
Peranan orang tua sangat
penting untuk mendukung supaya anaknya semangat menuntut ilmu. Setiap hari
putra-putrinya disuruh untuk pergi ke sekolah, sore atau malam hari untuk
mengaji di Masjid atau Mushola. Bagi mereka yang tidak menuntut ilmu terutama
pada anak usia sekolah akan merasa tertinggal dengan pendidikan, sehingga
masyarakat Sidomoro rajin untuk menuntut ilmu agama maupun umum.
Secara umum masyarakat Sidomoro
merupakan masyarakat yang religius. Nilai-nilai keagamaan selalu diamalkan
dalam kehidupan sehari-hari. Anak kecil pun sudah mengenal nilai-nilai
keagamaan sehingga tingkah laku mereka sesuai dengan aturan agama, norma yang berlaku di masyarakat.
Kehidupan bermasyarakat Sidomoro begitu
rukun, damai dan harmonis. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh nilai-nilai
keagamaan yang begitu kuat dan menyatu dengan kehidupan mereka. Salah satu
peran yang sangat mendukung keadaan tersebut adalah adanya lembaga pendidikan
nonformal yang ada di Sidomoro yaitu Majlis Ta'lim Baabussalam sebagai tempat
kajian ilmu keagamaan yang selalu memberikan, mengembangakan, ajaran Islam
sehingga pendalaman pendidikan agama pada anak-anak sebagai cikal bakal
masyarakat semakin meningkat.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis bermaksud melakukan
penelitian dengan judul “Peranan Majlis Ta’lim Baabussalam Dalam Peningkatan Kualitas Keagamaan Anak-anak
Desa Sidomoro Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen”.
C. Pembatasan masalah
Guru merupakan tolak ukur yang dijdikan
contoh oleh anak didiknya. Kedisiplinan, tingkah laku, bahkan kata-kata akan
dijadikan tauladan dalam aktivitas sehari-hari. Kehadiran guru sangatlah
penting, tanpa guru tujuan pemelajaran tidak akan tercapai dengan maksimal. Sangatlah disayangkan bila
guru-guru tersebut sering meninggalkan anak didiknya, sehingga mereka sering
terlantar.
Lingkungan yang tenang, bersih dan rapi
memberikan suasana yang nyaman untuk belajar. Begitu pula dengan Majlis Ta'lim
Baabussalam Sidomoro lingkungannya cukup baik, namun masih banyak dijumpai
sampah-sampah plastik di lingkungan belajar. Ini menandakan kesadaran anak
didik maupun guru terhadap lingkungannya terutama masalah kebersihan masih
sangat kurang.
Orang tua juga turut membantu dalam
meningkatkan keaktifan anak didik dalam menunut ilmu. Tetapi sebagian dari
orang tua masih ada yang kurang memperhatikan anaknya, sehingga anak didik
berangkat menuntut ilmu semaunya sendiri
Dari uraian di atas, maka dalam
penyususunan skripsi ini penulis membatasi masalah yang akan disampaikan yaitu
tentang Peranan Majlis Ta’lim Baabussalam
Sidomoro Dalam Peningkatan Kualitas keagamaan anak-anak Desa Sidomoro
Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan
pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana
peranan Majlis Ta’lim Baabussalam dalam
peningkatan kualitas keagamaan anak-anak desa Sidomoro kecamatan Buluspesantren
kabupaten Kebumen?
2. Apa
saja usaha-usaha yang dilakukan Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan
aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro?.
E. Penegasan Masalah
Untuk menghindari salah pengertian
dalam judul skripsi ini serta untuk memberi gambaran dan arah pembahasan yang
jelas, maka penulis akan menjelaskan terlebih dahulu batasan-batasan yang
tertuang dalam judul skripsi ini, sebagai berikut :
1. Peranan Majlis Ta'lim
Baabussalam Sidomoro
Yang dimaksud peranan Majlis Ta'lim Babussalam
Sidomoro adalah keikutsertaan keaktifan
dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Majlis Ta'lim dalam usaha untuk meningkatkan
keagamaan masyarakat Sidomoro.
2.
Usaha-usaha Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan
keagamaan di desa Sidomoro
Usaha-usaha yang dimaksud adalah
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro dengan
mengarahkan tenaga dan pikiran untuk meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan
di desa Sidomoro.
F. Tujuan
Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui peranan Majlis Ta’lim Baabussalam dalam
peningkatan kualitas keagamaan anak-anak desa Sidomoro
kecamatan Buluspesantren kabupaten Kebumen
peningkatan kualitas keagamaan anak-anak desa Sidomoro
kecamatan Buluspesantren kabupaten Kebumen
2. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan Majlis
Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro
G. Kegunaan Penelitian
- Untuk memberikan sumbangan terhadap Majlis Ta'lim
Baabussalam dalam meningkatan kualitas Pendidikan Agama Islam
- Menambah dan memperbanyak wawasan keilmuan sesuai
dengan ilmu yang penulis teliti.
- Untuk memberikan masukan pada fakultas yang berupa
hasil penelitian.
- Untuk menambah bahan pustaka dan khasanah keilmuan
PAI.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. LANDASAN TEORI
1. Pengertian Majlis Ta'lim
Dari segi etomologis, perkataan Majlis
Ta'lim berasal dari bahasa arab, yang terdiri dari dua kata yaitu majlis dan
taklim. Majlis artinya tempat duduk, tempat sidang, dewan. Dan taklim yang
diartikan dengan pengajaran. Dengan demikian secara bahasa Majlis Ta'lim adalah
tempat untuk melaksanakan pengajaran agama Islam.[1]
Majlis Ta'lim merupakan lembaga
pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar
pendidikan formal yang dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.[2]
Bila dilihat dari struktur
organisasinya, Majlis Ta’lim termasuk organisasi pendidikan luar sekolah yang
bercirikan keagamaan Islam. Bila dilihat dari segi tujuan , Majlis Ta’lim
termasuk lembaga atau sarana dakwah Islamiyah yang dapat mengatur dan
melaksananakan kegiatan kegiatannya. Di dalamya berkembang prinsip demokrasi
yang berdasarkan musyawarah untuk mufakat demi pelaskanan al-ta’lim a-Islamy sesuai dengan tuntutan
pesertanya.[3]
Bila dilihat dari segi historis. Majlis
Ta’lim dengan dimensinya yang berbeda-beda telah berkembang sejak zaman
Rosululloh saw. Pad zaan itu muncullah berbagai jenis kelompok pengajian
sukarela, tanpa bayaran, yang disebut halaqah yaitu kelompok pengajian di
Masjid Nabawi. Tempat halaqoh biasanya
ditandai dengan salah satu pilar masjid untuk tempat berkumpulnya
peserta kelompok masing-masing dengan seorang sahabat, yaitu ulama terpilih.
Yang menjadi ciri khas dari sistem belajar
agama melelui kelompok, baik melalui halaqoh, maupun zawiyah (majlis pengajian
untuk kalangan muslim yang mendalami
ilmu pengetahuan tasawuf di masjid Nabawi) dan al-kuttab(majlis pengajian
untuk kalangan anak-anak) adalah sikap
ikhlas dan sukarela dari para da’i, guru atau pengajar tanpa pamrih apapun. Para
pesertanya juga didorong kewajiban menuntut ilmu sepanjang hayat, terutama ilmu
agama yang bersumber dari wahyu yang diterima oleh Rosululloh SAW. Anak-anak
yang mengikuti perintah orang tuanya secara aktif dan terkontrol mengikuti
kegiatan pengajaran di Majlis Ta’lim(Kuttab).
Jika dilihat dari segi strategi
pembinaan umat , dapat dikatakan bahwa Majlias-majlis ta’lim merupakan
wadah/wahana dakwah Islamiyah yang murni institusional keagamaan. Sebagai
institusi keagamaan Islam, sistem Majlis Ta’lim adalah built-in (melekat) pada
agama Islam itu sendiri.[4]
Macam dan tingkatan Majlis Ta’lim
menurut latar belakang sosial budayanya antara lain:
a. Majlis Ta’lim Pinggiran
Istilah
pinggiran dalam hal ini bukan berarti pinggiran kota, tetapi menunjukan
pemukiman lama yang umumnya dihuni oleh masyarakat ekonomi lemah yang sebagian
besar menunjukan unsur betawi asli.
b. Majlis Ta’lim Gedongan
Majlis ini terdapat di daerah elit baik
di daerah pemukimn lama maupn baru, dimanan penduduknya dianggap kaya dan
terpelajar.
c. Majlis Ta’lim Kompleks
Instansi tertentu membangun kompleks
perumahan untuk karyawan seperti Bank, Depkes, Hankam, PLN dan sebagainya. Majlis
Ta’lim jamahnya terdiri dari golongan menengah dan punya ikatan dengan instansi
yang membangun kompleks.
d. Majlis Ta’lim Pemukiman
Baru
Majlis Ta’lim ini tumbuh di daerah
perumahan baru, jamaahnya terpalajar, ekonomi menengah, karyawan, tidak terikat
instansi.
e. Majlis Ta’lim Kantoran
Majlis Ta’lim ini diselenggarakan oleh
karyawan suatu kantor. Mempunyai ikatan sangat erat dengan kebijaksanan
kantornya.
f. Majlis Ta’lim Khusus
Misalnya pengajian para mentri,
jamaah haji VIP, keluarga besar daerah dan lain-lain
g. Majlis Ta’lim Kelompok Usroh
2. Peran dan Fungsi Majlis Ta’lim
Sesuai karakter yang
dimiliki majlis taklim sebagai kekuatan social dan asset yang berdaya tawar
tinggi dari tingkat pusat sampai akar rumput, peran yang diharapkan dalam
penanaman nilai-nilai multi cultural sangat penting. Majlis Taklim, secara
kultur bisa menjadi agen perubahan, secara politis bisa menjadi perekat bangsa,
dan secara ekonomi bisa menjadi pasar yang menguntungkan.[6]
Adapun Fungsi Majlis Ta’lim sebagai berikut:
Adapun Fungsi Majlis Ta’lim sebagai berikut:
a. Membina dan
mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Alloh SWT.
b. Sebagai taman rekreasi rohaniyah, karena
penyelenggaraanya bersifat santai
c. Sebagai ajang berlangsungnya silaturahmi masal
yang dapat menghidupsuburkan dakwah dan ukhuwah Islamiyah.
d. Sebagai
sarana dialog berkesinambungan antara ulam dan umaro dengan umat.
e. Sebagai
media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa pada
umumnya.[7]
3. Tempat Pengajian
Tempat Pengajian dapat
dilakukan dimanapun, asalkan tempat itu bersih dan memadai. Tetapi biasanya
yang lazim diadakan di Masjid, Langgar, Surau, Mushola bahkan di rumah-rumah.[8]
4. Materi
Adapun materinya adalah
a.
Al Qur’an (mengenal huruf, tajwid, menghafa surat pendek)
b.
Ibadah ( sholat, zakat, puasa, dan haji)
c. Ahlaq ( ajaran dari Hadist dan Al-quran )
Menurut Al-Ghazali yang meliputi
prinsip-prinsip pendidikan Islam meliputi:
1. Pendidikan Keimanan
Pendidikan keimanaan perlu
diberikan kepada anak-anak sejak dini, karena hal ini akan hadir secara
sempurna dalam jiwa anak perasaan ketuhanan yang berperan sebagai dasar dalam
berbagai aspek kehidupan.
2. Pendidikan Ahlak
Anak-anak belum bisa
perpikir secara logis dan memahami hal-hal yang abstrak, serta belum sanggup
menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Oleh karena itu perlu dibimbing
dan dibiasakan dengan ahlak yang baik dan terpuji, salah satunya dengan cara
latihan-latihan karena masa kanak-kanak adalah masa paling baik untuk
menanamkan dasar-dasar pendidikan ahlak.
Pendidikan Ahlak susila
anak-anak menurut Al-Ghazali sebagai berikut:
a. Kesopanan dan
kesederhanaan;
1. Kesopanan dan kesederhanaan
makan
2. Kesopanan dan kesederhanaan pakaian
b. Kesopanan dan kedisiplinan:
1. Kesopanan dan kedisiplinan duduk
2. Kesopanan dan kedisiplinan berludah
3. Kesopanan dan kedisiplinan berbicara
c. Pembinaan dan latihan bagi anak
untuk menjauhkan perbuatan yang
tercela;
tercela;
1. Suka bersumpah
2. suka meminta
3. suka membanggakan diri
4. berbuat dengan cara sembunyi
5. menjauhi segala sesuatu yang
tercela
d. Latihan beribadah dan mempelajari syariat agama Islam
3. Pendidikan Akliah
Akal adalah sebagai sumber
ilmu pengetahuan tempat terbit dan sendi-sendinya. Ilmu pengetahuan itu berlaku dari akal, buah-buahan
dari pohon, sinar dari matahari dan penglihatan dari mata. Akal pikiran tidak
akan menjadi cerdas dan berguna, selama akal pikiran manusia tidak digunakan.
4. Pendidikan sosial
Manusia adalah mahluk
sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia perlu hidup bersama orang lain,
saling tolong menolong dalam kebaikan dan nantinya akan terbentuk masyarakat
yang baik.
Beberapa lingkungan pergaulan di dalam masyarakat
menurut Al-Ghazali:
a. Lingkungan keluarga
b Lingkungan tetangga
c. Lingkungan sahabat
d. Lingkungan persaudaraan Islam
5. Pendidikan Jasmaniah
Aspek Jasmaniah merupakan salah satu
dasar pokok untuk mendapatkan kemajuan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia.
Akal dan jiwa yang sehat terdapat pada jasmani yang sehat pula. Hubungan antara
jasmaniah dan rohaniah manusia saling memberikan timbal balik, yaitu hal-hal yang berpengaruh pada jiwa akan
berpengaruh pada jasmani, demikian pula sebaliknya.
Adapun pendidikan jasmaniah bagi
anak-anak sebagai berikut :
a. Kesehatan dan kebersihan:
b.Membiasakan makan suatu
makanan yang baik, sekedar untuk
mencukupi kebutuhan badan dan menguatkan.
mencukupi kebutuhan badan dan menguatkan.
c. Bermain dan berolah raga[10]
5. Sarana dan Fasilitas
Sarana dan Fasilitas yang
memadahi sangat dibutuhkan diantaranya adalah:
a.
OHP atau Slide, sehingga materi pelajaran dengan mudah
ditampilakan lewat layar dengan berbagai bentuk yang menarik.
b.
Komputer
c.
Ruang belajar, meja kursi, papan tulis/hitam, alat
peraga, gambar-gambar, almari administrasi, dan bahan-bahan pelajaran.
d.
Perlengkpan administrasi seperti buku induk, buku tamu,
agenda surat, Absensi, kartu SPP, Prestasi santri, Data Prestasi, Raport,
Blanko kenaikan jilid, Kartu Tadarus dan lain-lain.
e.
Perpustakaan mini yang dilengkapi bacaan majalah
anak-anak muslim serta main-mainan yang Islami.[11]
6. Dana
Agar pendidikan dapat
bejalan dengan baik dan lancar, maka perlu diusahakan adanya sumber dana yang
sifatnya tetap
1.
Dana diperoleh dari:
a.
Dari orang tua santri
b.
Dari para dermawan
c.
Sumbangan dari pemerintah
2.
Dana digunakan antara lain untuk
Dana dan biaya tersebut
dipergunakan terutama untuk keperluan aktivitas sehari-hari antara lain:
a. Biaya administrasi
b. Pengadaan sarana pengajian
c. Kesejahteraan para guru[12]
7. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses merencanakan,
memperoleh, dan menyediakan informasi yang
sangat diperlukan untuk membuat alternatif- alternatif keputusan[13]. Dengan evaluasi akan dapat diketahui
dengan pasti tentang kemajuan, perkembangan, kelemahan , hambatan-hambatan anak
didik yang telah dialami selama jangka waktu tertentu.
Evaluasi dalam konteks pendidian Islam
merupakan cara teknik penilaian terhadap tingkah laku manusia berdasarkan
standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek
kehidupan mental psiklogis dan spiritual religius. Karena manusia didik hasil
proses pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersifat religius melainkan juga
berilmu dan berketrampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Alloh dan
masyarakat.
a.
Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya
dengan Tuhan;
b. Sikap dan pengalaman terhadap arti
hubungan dirinya dengan masyarakat:
c. Sikap dan pengalaman terhadap arti
hubungan dirinya dengan alam sekitarnya;
d. Sikap dan pengalaman terhadap arti
hubungan dirinya sendiri selaku hamba Alloh dan selaku anggota masyarakat serta
selaku khalifah di muka bumi.[14]
Jenis-jenis evluasi:
a.
Evaluasi Formatif, yang menetapkan tingkat
penguasaan anak didik dan menentukan bagian-bagian tugas yang belum dikuasai
dengan tepat.
b.
Evaluasi Sumatif, penilaian secara umum tentang
keseluruhan hasil dari proses belajar mengajar yang diakukan pada setiap akhir
periode belajar-mengajar secara terpadu.
c.
Evaluasi Diagnosis, ialah penilaian yang
dipusatkan pada proses belajar-mengajar dengan melokalisasikan suatu titik
keberangkatan yang cocok.
d.
Evaluasi Penempatan yang menitikberatkan pada
penilaian tentang permasalahan-permasalahan yang dengan :
1. Ilmu
pengetahuan dan ketrampilan murid yang diperlukan untuk awal proses
belajar-mengajar.
2.
Pengetahuan murid tentang tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sekolah.
3. Minat
dan perhatian, kebiasan bekerja, corak kepribadian yang menonjol yang
mengandung konotasi pada suatu metode belajar tertentu, misalnya belajar
berkelompok.[15]
8. Keagamaan anak-anak
Jiwa keagamaan setiap orang selalu
berkembang, sehingga dapat dikatakan “Manusia adalah mahluk yang berkembang
menjadi religius”.
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan:
a.
Siat-sifat individuil
b.
Pengaruh keluarga
c.
Pengaruh sekolah
d.
Pengaruh pergaulan;
Pergaulan yang dimaksud
disini adalah pergaulan di luar rumah dan sekolah, yang meliputi:
1. Lingkungan tempat ibadah
2. Kegiatan rekreasional
3. Mass-media[16]
Pengaruh tempat ibadah
terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan melalui sikap masyarakat setempat dan
kegiatan keagamaan bersama. Situasi masyarakat yang agamis, misalkan sholat
berjamaah akan menimbulkan kepekaan agama terhadap anak-anak
Kepercayaan
terhadap ajaran agama anak-anak masih ikut-ikutan. Percaya ikut-ikutan yang
dimaksud adalah percaya karena terbawa oleh lingkungan. Orang tua beragama,
teman, masyarakat sekelillingnya rajin beribadah, maka yang bersangkutan pun
akan ikut pula melaksanakan apa-apa yang
dikerjakan oleh orang tersebut. Keadaan ini bisa belangsung sampai remaja
pertama.
Untuk itulah anak perlu diberikan bimbingan dan
pembinaan pendidikan agama supaya tumbuh sikap dan ketrampilan keagamaan serta
menanamkan pengetahuan agama. Anak tidak mampu tumbuh dan berkembang sendiri
tanpa dibantu oleh orang lain, baik itu guru, orang tua, atau lingkungan
sekitarya.
Menurut
teori empirisme perkembangan seseorang semata-mata bergantung kepada
lingkungan.[17] Dari teori tersebut dikatakan bahwa
lingkungan dan pendidikan dapat membentuk perkembangan manusia kearah mana saja
sesuai lingkungan pendidikannya.
Secara
kodrati, anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa.
Rosululloh SAW. Bersabda “Tiadalah seorang yang dilahirkan maliankan menurut
fitrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang me-Yahudikannya atau
me-Nasranikannya atau me-Majusikannya”. (HR. Muslim). [18]
Menurut
Al-Abdari, anak mulai dididik dalam arti sesungguhnya setelah berusia 7 tahun.[19] Para Ahli didik Islam belum ada
kesepakatan kapan anak mulai didik.
Namun, jika diterapan dalam praktek pendidikan, maka untuk memasuki pendidikan
prasekolah sebaiknya setelah anak berumur 5 tahun, sedangkan untuk memasuki
pendidikan dasar, maka sebaiknya setelah anak berumur 7 tahun.
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Qudsiyah
dalam penelitiannya dengan judul “Peran Madrasah Diniyah Awaliah Terpadu (MDAT)
Darussalam dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan agama Islam di desa Bandung
Kabupaten Kebumen”, 2007. (STAINU Kebumen, Jurusan Tarbiyah 2007)
Qudsiyah, dalam penelitiannya yang berjudul “Peranan Madrasah Diniyah
Awaliah Terpadu (MDAT) Darussalam dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan agma Islam
di desa Bandung Kabupaten Kebumen”[20], yang dalam Permasalahannya diantaranya
adalah ketidakpuasan masyarakat/orang tua anak didik yang memperoleh pendidikan
agama Islam sangat sedikit dari sekolah umum, Peran Madrasah Diniyah Awaliah
Terpadu (MDAT) Darussalam dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama Islam di
desa Bandung kabupaten Kebumen, faktor-faktor pendukung dan penghambat Madrasah
Diniyah Awaliah Terpadu.
Metode yang dipakai dalam penelitian
tersebut adalah
1. Metode pengumpulan data
secara langsung atau metode observasi.
2. Metode wawancara/interivew bebas terpimpin.
3. Metode dokumentasi.
Hasil dari penelitian tersebut,
Perannya adalah sebagai berikut:
a. Membina
ahlak santri yaitu dengan cara memberikan keteladanan, nasehat,
perhatian dan menanamkan kebiasaan yang baik.
b. Memberikan pengusaan materi Pendidikan Agama
Islam yang dirasa masih kurang di Sekolah Dasar.
c.
Membimbing cara membaca Al quran dengan tartil sesuai dengan kaidah ilmi tajwid.
d. Menanamkan aqidah Islam sejak dini
e.
Memberikan corak warna desa yang agamis.
f.
Menjadikan santri memiliki ketrampilan menulis Al
Qur’an dengan baik dan dapat hafal doa-doa harian serta hafal surat-surat
pendek dalam Al Qur’an.
g.
Menjadikan santri disiplin beribadah.
Perbedaannya dengan
skripsi yang penulis susun adalah
a. Peran madrasah dalam kualitas pendidikan agama Islam
dengan peranan Majlis Ta’lim dalam
peningkatan kualitas keagamaan anak-anak
b. Faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi
madrasah dengan usaha-usaha yang dilakukan Majlis Ta’lim dalam meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan.
C. Fokus Penelitian
Dari beberapa uraian
diatas, setidaknya ada beberapa masalah yang ingin diteliti yaitu :
1. Peranan Majlis Ta’lim Baabussalam dalam peningkatan kualitas keagamaan desa
Sidomoro kecamatan buluspesantren kabupaten Kebumen.
2. Usaha-usaha yang dilakukan Majlis Ta'lim
Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Pendekatan
Penelitian
Yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah metode
atau cara mengadakan penelitian.[21]
Dalam penelitian ini pendekatan yang dipakai adalah pendekatan kualitatif,
karena data digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut
kategori untuk memperoleh kesimpulan.[22]
Penelitian kualitatif, menurut Bodgan dan Taylor adalah prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata terlukis atau
lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan
pada latar belakang individu tersebut secara holistik (utuh).[23]
Pendekatan kualitatif ini digunakan penulis karena
penelitian ini akan menyajikan secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan
keagamaan, peran Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro dalam peningkatan kualitas
keagamaan anak-anak desa Sidomoro kecamatan Buluspesantren kabupaten Kebumen
tahun 2009. Dengan data-data yang penulis kumpulkan melalui observasi
wawancara, dan dokumentasi, maka akan diperoleh keterangan-keterangan yang
terkait dengan keagamaan di Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro Buluspesantren
Kebumen.
B. Desain
Penelitian
Berangkat dari jenis atau
corak penelitian ini tergolong penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif
dibedakan menjadi dua jenis yaitu yang bersifat eksploratif dan yang besifat
developmental. Penelitia diskritif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk
menggambarkan keadaan atau status fenomena.[24] Dalam
hal ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan kedaan Majlis
Ta'lim Babussalam seperti gambaran umum Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro,
letak geografis, keadaan pengurus, keadaan ustadz, keadaan santri, peranan
Majlis Ta'lim Baabussalam dalam peningkatan kualitas keagamaan anak-anak desa Sidomoro
serta usaha-usaha yang dilkukan Majlis Ta'lim untuk meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan masyarakat sidomoro.
serta usaha-usaha yang dilkukan Majlis Ta'lim untuk meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan masyarakat sidomoro.
C. Subjek
penelitian
Subjek penelitian adalah
sumber untuk memperolah informasi yang berkaitan dengan penelitian. Dalam hal
ini yang menjadi Subjek penelitian adalah :
1. KH. Mudzakir selaku ketua majlis Ta’lim babussalam
2. Para Ustadz yaitu
a. Ari Cahyono
b. Siti Mu’minatun
3. Masyarakat yaitu Siti Wahyuni
D. Teknik Pengumpulan Data
Data merupakan suatu hal
yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Untuk memeperoleh data yang
diinginkan penulis malakukan dengan beberapa teknik pengumpulan data,
diantaranya sebagai berikut:
1. Observasi
Metode observasi adalah suatu usaha
sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis, dengan prosedur
yang terstandar.[25] Metode ini digunakan peneliti untuk
memperoleh data tentang kondisi umum Majlis Ta’lim Baabussalam Sidomoro.
2. Wawancara
Wawancara merupakan suatu proses
interaksi dan komunikasi.[26] Dalam metode Wawancara dengan
pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan penelitian ini dan sifatnya sebagai
alternatif dalam penyempurnaan penelitian.
3. Dokumentasi
Metode Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majlah, prasasti,
notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya[27]. Dokumentasi penulis digunakan untuk
memperoleh data kualitatif tentang hal-hal yang berhubungan dengan keadaan
subjek penelitian.
E. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data adalah usaha untuk
membuat data itu berbicara.. Dalam penelitian ini penulis menggunakan
pendekatan kualitatif. Pada tahap analisis data, penelitian kualitatif
menggunakan prinsip-prinsip logika deduktif-induktif, mula-mula memastikan
premis mayor, berargumen untuk memutuskan kasimpulan.[28]
Data
kualitatif yaitu data yang disajikan dalam bentuk kata atau kalimat. Oleh
karena itu, dalam penelitian kualitatif tidak digunakan analisis statistika.
F. Sistematika Skripsi
Untuk mempermudah dalam mempelajari dan memahami isi skripsi,
maka penelitian skripsi ini disusun dalam sistematika sebagai berikut:
1. Bagian awal
Bagian awal meiputi halaman sampul, halaman judul, halaman
pengesahan halaman pernyataan,halaman motto, halaman persembahan, kata
pengantar, daftar isi.
2. Bagian Utama
Bagian Utama skripsi yang
merupakan inti skripsi terbagi menjadi beberapa bab diantaranya adalah
Bab I
adalah Pendahuluan yang meliputi Judul Penelitian, Latar Belakang Masalah,
Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Penegasan Masalah, Penelitian dan
Keguanaa penelitian.
Bab II
adalah Kerangka Teoritis yang meliputi Landasan Teori vdan Fokus Penelitian
Bab III
adalah Metodologi Penelitian yang meliputi Pendekatan penelitian, Desain
Penelitiuan, Subjek Penelitian, teknik Pengumpulan Data,Teknik Analisa data dan
sistematika skripsi.
Bab IV
adalah Hasil Penelitian yang memuat hasil penelitian yang meliputi gambaran
umum Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro, letak geografis, keadaan geografis,
keadaan pengurus, keadaan guru, dan Peranan Majlis Ta’lim Baabussalam Dalam Peningkatan Kualitas keagaman anak-anak
di desa Sidomoro Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen serta Usaha-usaha
yang dilakukan Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan
keagamaan di desa Sidomoro.
Bab V
Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran saran.
3. Bagian Akhir
Pada bagian ini terdiri dari
Daftar Kepustakaan
Lampiran - lampiran
[1]Hasbulah, Kapita Selekta Pendidikan
Agama Islam,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hal. 95
[2] Dirjen Pendidikan Islam,Undang-Undang
dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, (Depag, 2006), hal. 6
[3]Muzayyin Arifin, Kapita Selekta
Pendidikan Islam, cetakan kedua
(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 80
[6] Mursyidah
Thahir, http://mursyidahiiq.blogspot.com/2009/01/peran-majlis-taklim-dalam-penanaman.html,
Jumat, Januari 16, 2009
[8]Proyek
Pengembangan, Bimbingan dan Dakwah/Khutbah Agama Islam Pusat Dirjen Bimas Islam
dan Urusan Haji, Pedoman Pengajian Al Quran bagi anak-anak, ( Jakarta:
Proyek Penerangan ,1983), hal. 8
[10]
Hamdani Ihsan and Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia,
2001), hal.235
[11]
Chairani Idris and Tasyrifin Karim, Buku Pedoman Pembinaan dan Pembangunan
TK Al Quran Badan Komunikasi Pemuda Maskid Indonesia , (Jakarta: DPP BKPMI
Masjid Istiqlal kamar 13, 1994), hal. 6
[12] Proyek Pengembangan, Op.Cit hal. 15
[13]
Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam,
(Jakarta ;
Departemen Agama RI,2003), hal.26
[15]Hamdani
Ihsan and Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2001), hal. 232
[17]
Ibid, hal 50
[18]Hamdani
Ihsan and Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2001), hal. 114
[19] Ibid,
hal. 125
[20]
Qudsiyah, Peran Madrasah Diniyah Awaliah Terpadu (MDAT) Darussalam dalam
Peningkatan Kualitas Pendidikan agama Islam di desa Bandung Kabupaten Kebumen
(tidak diterbitkan,STAINU,2007), hal.
[21]
Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian
Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,1998), hal. 20
[22]
Ibid, hal. 245
[23]
Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet keduapuluh empat (Bandung : Remaja
Rosdakarya, 2007) Hal.4
[24]
Qudsiyah, Peran Madrasah Diniyah Awaliyah Terpadu (MDAT) Darussalam dalam
Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama Islam di desa Bandung kabupaten Kebumen (tidak
diterbitkan, satinu,2007),Hal. 23
[28]
Wardi Bahtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997)
hal.24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar