Rabu, 01 April 2020


BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul Penelitian
PERANAN MAJLIS TA’LIM BAABUSSALAM  DALAM PENINGKATAN KUALITAS KEAGAMAAN ANAK-ANAK DESA SIDOMORO KECAMATAN BULUSPESANTREN KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2009

B. Latar Belakang
         Pendidikan merupakan peran yang sangat penting untuk menjamin kehidupan suatu bangsa. Pendidikan juga menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa, dan menjadi cermin kepribadian masyarakatnya. Demikian juga dengan masyarakat Sidomoro dari anak-anak sampai orang tua, hampir seluruh masyarakatnya selalu menuntut ilmu baik dalam pendidikan formal maupun nonformal.
        Peranan orang tua sangat penting untuk mendukung supaya anaknya semangat menuntut ilmu. Setiap hari putra-putrinya disuruh untuk pergi ke sekolah, sore atau malam hari untuk mengaji di Masjid atau Mushola. Bagi mereka yang tidak menuntut ilmu terutama pada anak usia sekolah akan merasa tertinggal dengan pendidikan, sehingga masyarakat Sidomoro rajin untuk menuntut ilmu agama maupun umum.
      Secara umum masyarakat Sidomoro merupakan masyarakat yang religius. Nilai-nilai keagamaan selalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak kecil pun sudah mengenal nilai-nilai keagamaan sehingga tingkah laku mereka sesuai dengan aturan agama, norma  yang berlaku di masyarakat.
      Kehidupan bermasyarakat Sidomoro begitu rukun, damai dan harmonis. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh nilai-nilai keagamaan yang begitu kuat dan menyatu dengan kehidupan mereka. Salah satu peran yang sangat mendukung keadaan tersebut adalah adanya lembaga pendidikan nonformal yang ada di Sidomoro yaitu Majlis Ta'lim Baabussalam sebagai tempat kajian ilmu keagamaan yang selalu memberikan, mengembangakan, ajaran Islam sehingga pendalaman pendidikan agama pada anak-anak sebagai cikal bakal masyarakat semakin meningkat.
      Berdasarkan uraian di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Peranan Majlis Ta’lim Baabussalam  Dalam Peningkatan Kualitas Keagamaan Anak-anak Desa Sidomoro Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen”.

C. Pembatasan masalah
       Guru merupakan tolak ukur yang dijdikan contoh oleh anak didiknya. Kedisiplinan, tingkah laku, bahkan kata-kata akan dijadikan tauladan dalam aktivitas sehari-hari. Kehadiran guru sangatlah penting, tanpa guru tujuan pemelajaran tidak akan tercapai dengan  maksimal. Sangatlah disayangkan bila guru-guru tersebut sering meninggalkan anak didiknya, sehingga mereka sering terlantar.
        Lingkungan yang tenang, bersih dan rapi memberikan suasana yang nyaman untuk belajar. Begitu pula dengan Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro lingkungannya cukup baik, namun masih banyak dijumpai sampah-sampah plastik di lingkungan belajar. Ini menandakan kesadaran anak didik maupun guru terhadap lingkungannya terutama masalah kebersihan masih sangat kurang.
        Orang tua juga turut membantu dalam meningkatkan keaktifan anak didik dalam menunut ilmu. Tetapi sebagian dari orang tua masih ada yang kurang memperhatikan anaknya, sehingga anak didik berangkat menuntut ilmu semaunya sendiri
        Dari uraian di atas, maka dalam penyususunan skripsi ini penulis membatasi masalah yang akan disampaikan yaitu tentang Peranan Majlis Ta’lim Baabussalam  Sidomoro Dalam Peningkatan Kualitas keagamaan anak-anak Desa Sidomoro Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen.

D. Rumusan Masalah
        Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana peranan Majlis Ta’lim Baabussalam  dalam peningkatan kualitas keagamaan anak-anak desa Sidomoro kecamatan Buluspesantren kabupaten Kebumen?
2. Apa saja usaha-usaha yang dilakukan Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro?.

E. Penegasan Masalah
        Untuk menghindari salah pengertian dalam judul skripsi ini serta untuk memberi gambaran dan arah pembahasan yang jelas, maka penulis akan menjelaskan terlebih dahulu batasan-batasan yang tertuang dalam judul skripsi ini, sebagai berikut :
1. Peranan Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro
        Yang dimaksud peranan Majlis Ta'lim Babussalam Sidomoro  adalah keikutsertaan keaktifan dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Majlis Ta'lim dalam usaha untuk meningkatkan keagamaan masyarakat Sidomoro.
2. Usaha-usaha Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro
       Usaha-usaha yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro dengan mengarahkan tenaga dan pikiran untuk meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro.       
F. Tujuan Penelitian
      Tujuan Penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui peranan Majlis Ta’lim Baabussalam  dalam
    peningkatan kualitas keagamaan anak-anak desa Sidomoro
    kecamatan Buluspesantren kabupaten Kebumen
2. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro
G.  Kegunaan Penelitian
      Ada beberapa kegunaan dari penelitian ini adalah
  1. Untuk memberikan sumbangan terhadap Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatan kualitas Pendidikan Agama Islam
  2. Menambah dan memperbanyak wawasan keilmuan sesuai dengan ilmu yang penulis teliti.
  3. Untuk memberikan masukan pada fakultas yang berupa hasil penelitian.
  4. Untuk menambah bahan pustaka dan khasanah keilmuan PAI.


























BAB II
KERANGKA TEORITIS

A. LANDASAN TEORI
1. Pengertian Majlis Ta'lim
       Dari segi etomologis, perkataan Majlis Ta'lim berasal dari bahasa arab, yang terdiri dari dua kata yaitu majlis dan taklim. Majlis artinya tempat duduk, tempat sidang, dewan. Dan taklim yang diartikan dengan pengajaran. Dengan demikian secara bahasa Majlis Ta'lim adalah tempat untuk melaksanakan pengajaran agama Islam.[1]
        Majlis Ta'lim merupakan lembaga pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.[2]
        Bila dilihat dari struktur organisasinya, Majlis Ta’lim termasuk organisasi pendidikan luar sekolah yang bercirikan keagamaan Islam. Bila dilihat dari segi tujuan , Majlis Ta’lim termasuk lembaga atau sarana dakwah Islamiyah yang dapat mengatur dan melaksananakan kegiatan kegiatannya. Di dalamya berkembang prinsip demokrasi yang berdasarkan musyawarah untuk mufakat demi pelaskanan  al-ta’lim a-Islamy sesuai dengan tuntutan pesertanya.[3]
        Bila dilihat dari segi historis. Majlis Ta’lim dengan dimensinya yang berbeda-beda telah berkembang sejak zaman Rosululloh saw. Pad zaan itu muncullah berbagai jenis kelompok pengajian sukarela, tanpa bayaran, yang disebut halaqah yaitu kelompok pengajian di Masjid Nabawi. Tempat halaqoh biasanya  ditandai dengan salah satu pilar masjid untuk tempat berkumpulnya peserta kelompok masing-masing dengan seorang sahabat, yaitu ulama terpilih.
        Yang menjadi ciri khas dari sistem belajar agama melelui kelompok, baik melalui halaqoh, maupun zawiyah (majlis pengajian untuk  kalangan muslim yang mendalami ilmu pengetahuan tasawuf di masjid Nabawi) dan al-kuttab(majlis pengajian untuk  kalangan anak-anak) adalah sikap ikhlas dan sukarela dari para da’i, guru atau pengajar tanpa pamrih apapun. Para pesertanya juga didorong kewajiban menuntut ilmu sepanjang hayat, terutama ilmu agama yang bersumber dari wahyu yang diterima oleh Rosululloh SAW. Anak-anak yang mengikuti perintah orang tuanya secara aktif dan terkontrol mengikuti kegiatan pengajaran di Majlis Ta’lim(Kuttab).
        Jika dilihat dari segi strategi pembinaan umat , dapat dikatakan bahwa Majlias-majlis ta’lim merupakan wadah/wahana dakwah Islamiyah yang murni institusional keagamaan. Sebagai institusi keagamaan Islam, sistem Majlis Ta’lim adalah built-in (melekat) pada agama Islam itu sendiri.[4]
        Macam dan tingkatan Majlis Ta’lim menurut latar belakang sosial budayanya antara lain:
a. Majlis Ta’lim Pinggiran
Istilah pinggiran dalam hal ini bukan berarti pinggiran kota, tetapi menunjukan pemukiman lama yang umumnya dihuni oleh masyarakat ekonomi lemah yang sebagian besar menunjukan unsur betawi asli.
b. Majlis Ta’lim Gedongan
        Majlis ini terdapat di daerah elit baik di daerah pemukimn lama maupn baru, dimanan penduduknya dianggap kaya dan terpelajar.
c. Majlis Ta’lim Kompleks
        Instansi tertentu membangun kompleks perumahan untuk karyawan seperti Bank, Depkes, Hankam, PLN dan sebagainya. Majlis Ta’lim jamahnya terdiri dari golongan menengah dan punya ikatan dengan instansi yang membangun kompleks.
d. Majlis Ta’lim Pemukiman Baru
        Majlis Ta’lim ini tumbuh di daerah perumahan baru, jamaahnya terpalajar, ekonomi menengah, karyawan, tidak terikat instansi.
e. Majlis Ta’lim Kantoran
        Majlis Ta’lim ini diselenggarakan oleh karyawan suatu kantor. Mempunyai ikatan sangat erat dengan kebijaksanan kantornya.
f. Majlis Ta’lim Khusus
        Misalnya pengajian para mentri, jamaah haji VIP, keluarga besar daerah dan lain-lain
g. Majlis Ta’lim Kelompok Usroh
        Jamaahnya para remaja adalah  sebagian yang mengikuti aliran politik/politik tertentu.[5]

2. Peran dan Fungsi Majlis Ta’lim
        Sesuai karakter yang dimiliki majlis taklim sebagai kekuatan social dan asset yang berdaya tawar tinggi dari tingkat pusat sampai akar rumput, peran yang diharapkan dalam penanaman nilai-nilai multi cultural sangat penting. Majlis Taklim, secara kultur bisa menjadi agen perubahan, secara politis bisa menjadi perekat bangsa, dan secara ekonomi bisa menjadi pasar yang menguntungkan.[6]
          Adapun Fungsi Majlis Ta’lim sebagai berikut:
a.  Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk  masyarakat yang bertakwa kepada Alloh SWT.
b. Sebagai taman rekreasi rohaniyah, karena penyelenggaraanya bersifat  santai
c. Sebagai ajang berlangsungnya silaturahmi masal yang dapat menghidupsuburkan dakwah dan ukhuwah Islamiyah.
d. Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulam dan umaro dengan umat.
e. Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa pada umumnya.[7]
3. Tempat Pengajian
        Tempat Pengajian dapat dilakukan dimanapun, asalkan tempat itu bersih dan memadai. Tetapi biasanya yang lazim diadakan di Masjid, Langgar, Surau, Mushola bahkan di rumah-rumah.[8]
4. Materi
        Adapun materinya adalah
a.       Al Qur’an (mengenal huruf, tajwid, menghafa surat pendek)
b.      Ibadah ( sholat, zakat, puasa, dan haji)
c.       Ahlaq ( ajaran dari Hadist dan Al-quran )
d.      Seni suara ( Diberikan dalam bentuk do’a dalam Al Qur’an, qasidah, tausyih dan sebagainya)[9]
        Menurut Al-Ghazali yang meliputi prinsip-prinsip pendidikan Islam meliputi:
1. Pendidikan Keimanan
        Pendidikan keimanaan perlu diberikan kepada anak-anak sejak dini, karena hal ini akan hadir secara sempurna dalam jiwa anak perasaan ketuhanan yang berperan sebagai dasar dalam berbagai aspek kehidupan.
2. Pendidikan Ahlak
        Anak-anak belum bisa perpikir secara logis dan memahami hal-hal yang abstrak, serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Oleh karena itu perlu dibimbing dan dibiasakan dengan ahlak yang baik dan terpuji, salah satunya dengan cara latihan-latihan karena masa kanak-kanak adalah masa paling baik untuk menanamkan dasar-dasar pendidikan ahlak.
        Pendidikan Ahlak susila anak-anak menurut Al-Ghazali sebagai berikut:
a. Kesopanan dan kesederhanaan;
1. Kesopanan dan kesederhanaan makan
2.  Kesopanan dan kesederhanaan pakaian
b. Kesopanan dan kedisiplinan:
1.  Kesopanan dan kedisiplinan duduk
2.  Kesopanan dan kedisiplinan berludah
3.  Kesopanan dan kedisiplinan berbicara
c. Pembinaan dan latihan bagi anak untuk menjauhkan perbuatan yang
     tercela;
1.  Suka bersumpah
2.  suka meminta
3.  suka membanggakan diri
4.  berbuat dengan cara sembunyi
5.  menjauhi segala sesuatu yang tercela
d. Latihan beribadah dan mempelajari syariat agama Islam
3. Pendidikan Akliah
        Akal adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan tempat terbit dan sendi-sendinya. Ilmu pengetahuan itu berlaku dari akal, buah-buahan dari pohon, sinar dari matahari dan penglihatan dari mata. Akal pikiran tidak akan menjadi cerdas dan berguna, selama akal pikiran manusia tidak digunakan.
4. Pendidikan sosial
        Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia perlu hidup bersama orang lain, saling tolong menolong dalam kebaikan dan nantinya akan terbentuk masyarakat yang baik.
        Beberapa lingkungan pergaulan di dalam masyarakat menurut Al-Ghazali:
a. Lingkungan keluarga
b Lingkungan tetangga
c. Lingkungan sahabat
d. Lingkungan persaudaraan Islam
5. Pendidikan Jasmaniah
        Aspek Jasmaniah merupakan salah satu dasar pokok untuk mendapatkan kemajuan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Akal dan jiwa yang sehat terdapat pada jasmani yang sehat pula. Hubungan antara jasmaniah dan rohaniah manusia saling memberikan timbal balik,  yaitu hal-hal yang berpengaruh pada jiwa akan berpengaruh pada jasmani, demikian pula sebaliknya.
        Adapun pendidikan jasmaniah bagi anak-anak sebagai berikut :
a. Kesehatan dan kebersihan:
b.Membiasakan makan suatu makanan yang baik, sekedar untuk
   mencukupi kebutuhan badan dan menguatkan.
c. Bermain dan berolah raga[10]
5. Sarana dan Fasilitas
        Sarana dan Fasilitas yang memadahi sangat dibutuhkan diantaranya adalah:
a.       OHP atau Slide, sehingga materi pelajaran dengan mudah ditampilakan lewat layar dengan berbagai bentuk yang menarik.
b.      Komputer
c.       Ruang belajar, meja kursi, papan tulis/hitam, alat peraga, gambar-gambar, almari administrasi, dan bahan-bahan pelajaran.
d.      Perlengkpan administrasi seperti buku induk, buku tamu, agenda surat, Absensi, kartu SPP, Prestasi santri, Data Prestasi, Raport, Blanko kenaikan jilid, Kartu Tadarus dan lain-lain.
e.       Perpustakaan mini yang dilengkapi bacaan majalah anak-anak muslim serta main-mainan yang Islami.[11]
6. Dana
        Agar pendidikan dapat bejalan dengan baik dan lancar, maka perlu diusahakan adanya sumber dana yang sifatnya tetap
1.      Dana diperoleh dari:
a.       Dari orang tua santri
b.      Dari para dermawan
c.       Sumbangan dari pemerintah
2.      Dana digunakan antara lain untuk
        Dana dan biaya tersebut dipergunakan terutama untuk keperluan aktivitas sehari-hari antara lain:
a. Biaya administrasi
b. Pengadaan sarana pengajian
c. Kesejahteraan para guru[12]
7. Evaluasi
        Evaluasi merupakan proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang  sangat diperlukan untuk membuat alternatif- alternatif keputusan[13]. Dengan evaluasi akan dapat diketahui dengan pasti tentang kemajuan, perkembangan, kelemahan , hambatan-hambatan anak didik yang telah dialami selama jangka waktu tertentu.
        Evaluasi dalam konteks pendidian Islam merupakan cara teknik penilaian terhadap tingkah laku manusia berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psiklogis dan spiritual religius. Karena manusia didik hasil proses pendidikan Islam bukan saja sosok pribadi yang  tidak hanya bersifat religius melainkan juga berilmu dan berketrampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada Alloh dan masyarakat.
        Ada empat sasaran dari proses evaluasi dalam pendidikan Islam yaitu:
a.       Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan Tuhan;
b.      Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat:
c.       Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan alam sekitarnya;
d.      Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya sendiri selaku hamba Alloh dan selaku anggota masyarakat serta selaku khalifah  di muka bumi.[14]
         Jenis-jenis evluasi:
a.       Evaluasi Formatif, yang menetapkan tingkat penguasaan anak didik dan menentukan bagian-bagian tugas yang belum dikuasai dengan tepat.
b.      Evaluasi Sumatif, penilaian secara umum tentang keseluruhan hasil dari proses belajar mengajar yang diakukan pada setiap akhir periode belajar-mengajar secara terpadu.
c.       Evaluasi Diagnosis, ialah penilaian yang dipusatkan pada proses belajar-mengajar dengan melokalisasikan suatu titik keberangkatan yang cocok.
d.      Evaluasi Penempatan yang menitikberatkan pada penilaian tentang permasalahan-permasalahan yang dengan :
1. Ilmu pengetahuan dan ketrampilan murid yang diperlukan untuk awal proses belajar-mengajar.
2. Pengetahuan murid tentang tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sekolah.
3. Minat dan perhatian, kebiasan bekerja, corak kepribadian yang menonjol yang mengandung konotasi pada suatu metode belajar tertentu, misalnya belajar berkelompok.[15]
  8. Keagamaan anak-anak
        Jiwa keagamaan setiap orang selalu berkembang, sehingga dapat dikatakan “Manusia adalah mahluk yang berkembang menjadi religius”.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan:
a.       Siat-sifat individuil
b.      Pengaruh keluarga
c.       Pengaruh sekolah
d.      Pengaruh pergaulan;
       Pergaulan yang dimaksud disini adalah pergaulan di luar rumah dan sekolah, yang meliputi:
1. Lingkungan tempat ibadah
2. Kegiatan rekreasional
3. Mass-media[16]
        Pengaruh tempat ibadah terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan melalui sikap masyarakat setempat dan kegiatan keagamaan bersama. Situasi masyarakat yang agamis, misalkan sholat berjamaah akan menimbulkan kepekaan agama terhadap anak-anak
 Kepercayaan terhadap ajaran agama anak-anak masih ikut-ikutan. Percaya ikut-ikutan yang dimaksud adalah percaya karena terbawa oleh lingkungan. Orang tua beragama, teman, masyarakat sekelillingnya rajin beribadah, maka yang bersangkutan pun akan ikut  pula melaksanakan apa-apa yang dikerjakan oleh orang tersebut. Keadaan ini bisa belangsung sampai remaja pertama.
Untuk itulah anak perlu diberikan bimbingan dan pembinaan pendidikan agama supaya tumbuh sikap dan ketrampilan keagamaan serta menanamkan pengetahuan agama. Anak tidak mampu tumbuh dan berkembang sendiri tanpa dibantu oleh orang lain, baik itu guru, orang tua, atau lingkungan sekitarya.
Menurut teori empirisme perkembangan seseorang semata-mata bergantung kepada lingkungan.[17] Dari teori tersebut dikatakan bahwa lingkungan dan pendidikan dapat membentuk perkembangan manusia kearah mana saja sesuai lingkungan pendidikannya.
Secara kodrati, anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa. Rosululloh SAW. Bersabda “Tiadalah seorang yang dilahirkan maliankan menurut fitrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang me-Yahudikannya atau me-Nasranikannya atau me-Majusikannya”. (HR. Muslim). [18]
Menurut Al-Abdari, anak mulai dididik dalam arti sesungguhnya setelah berusia 7 tahun.[19] Para Ahli didik Islam belum ada kesepakatan  kapan anak mulai didik. Namun, jika diterapan dalam praktek pendidikan, maka untuk memasuki pendidikan prasekolah sebaiknya setelah anak berumur 5 tahun, sedangkan untuk memasuki pendidikan dasar, maka sebaiknya setelah anak berumur 7 tahun.



B. Hasil Penelitian Terdahulu
Qudsiyah dalam penelitiannya dengan judul “Peran Madrasah Diniyah Awaliah Terpadu (MDAT) Darussalam dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan agama Islam di desa Bandung Kabupaten Kebumen”, 2007. (STAINU Kebumen, Jurusan Tarbiyah 2007)
Qudsiyah, dalam penelitiannya yang berjudul “Peranan Madrasah Diniyah Awaliah Terpadu (MDAT) Darussalam dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan agma Islam di desa Bandung Kabupaten Kebumen”[20], yang dalam Permasalahannya diantaranya adalah ketidakpuasan masyarakat/orang tua anak didik yang memperoleh pendidikan agama Islam sangat sedikit dari sekolah umum, Peran Madrasah Diniyah Awaliah Terpadu (MDAT) Darussalam dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama Islam di desa Bandung kabupaten Kebumen, faktor-faktor pendukung dan penghambat Madrasah Diniyah Awaliah Terpadu.
        Metode yang dipakai dalam penelitian tersebut adalah
1. Metode pengumpulan data secara langsung atau metode observasi.
2. Metode wawancara/interivew bebas terpimpin.
3. Metode dokumentasi.
        Hasil dari penelitian tersebut, Perannya adalah sebagai berikut:
a.       Membina  ahlak santri yaitu dengan cara memberikan keteladanan, nasehat, perhatian dan menanamkan kebiasaan yang baik.
b.      Memberikan pengusaan materi Pendidikan Agama Islam yang dirasa masih kurang di Sekolah Dasar.
c.       Membimbing cara membaca Al quran dengan  tartil sesuai dengan kaidah ilmi tajwid.
d.      Menanamkan aqidah Islam sejak dini
e.       Memberikan corak warna desa yang agamis.
f.       Menjadikan santri memiliki ketrampilan menulis Al Qur’an dengan baik dan dapat hafal doa-doa harian serta hafal surat-surat pendek dalam Al Qur’an.
g.      Menjadikan santri disiplin beribadah.
         Perbedaannya dengan skripsi yang penulis susun adalah
a. Peran madrasah dalam kualitas pendidikan agama Islam dengan peranan  Majlis Ta’lim dalam peningkatan kualitas keagamaan anak-anak
b. Faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi madrasah dengan usaha-usaha yang dilakukan Majlis Ta’lim dalam  meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan.

C.  Fokus Penelitian
        Dari beberapa uraian diatas, setidaknya ada beberapa masalah yang ingin diteliti yaitu :
1. Peranan Majlis Ta’lim Baabussalam  dalam peningkatan kualitas keagamaan desa Sidomoro kecamatan buluspesantren kabupaten Kebumen.
2. Usaha-usaha yang dilakukan Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah metode atau cara mengadakan penelitian.[21] Dalam penelitian ini pendekatan yang dipakai adalah pendekatan kualitatif, karena data digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan.[22]
Penelitian kualitatif, menurut Bodgan dan Taylor adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata terlukis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar belakang individu tersebut secara holistik (utuh).[23]
Pendekatan kualitatif ini digunakan penulis karena penelitian ini akan menyajikan secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan, peran Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro dalam peningkatan kualitas keagamaan anak-anak desa Sidomoro kecamatan Buluspesantren kabupaten Kebumen tahun 2009. Dengan data-data yang penulis kumpulkan melalui observasi wawancara, dan dokumentasi, maka akan diperoleh keterangan-keterangan yang terkait dengan keagamaan di Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro Buluspesantren Kebumen.
B. Desain Penelitian
        Berangkat dari jenis atau corak penelitian ini tergolong penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif dibedakan menjadi dua jenis yaitu yang bersifat eksploratif dan yang besifat developmental. Penelitia diskritif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena.[24] Dalam hal ini peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan kedaan Majlis Ta'lim Babussalam seperti gambaran umum Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro, letak geografis, keadaan pengurus, keadaan ustadz, keadaan santri, peranan Majlis Ta'lim Baabussalam dalam peningkatan kualitas keagamaan anak-anak desa Sidomoro
serta usaha-usaha yang dilkukan Majlis Ta'lim untuk meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan masyarakat sidomoro.
      
C. Subjek penelitian
        Subjek penelitian adalah sumber untuk memperolah informasi yang berkaitan dengan penelitian. Dalam hal ini yang menjadi Subjek penelitian adalah :
1. KH. Mudzakir selaku ketua majlis Ta’lim babussalam
2. Para Ustadz yaitu
a. Ari Cahyono
b. Siti Mu’minatun
3. Masyarakat yaitu  Siti Wahyuni

D. Teknik Pengumpulan Data
       Data merupakan suatu hal yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Untuk memeperoleh data yang diinginkan penulis malakukan dengan beberapa teknik pengumpulan data, diantaranya sebagai berikut:  
1. Observasi
        Metode observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis, dengan prosedur yang terstandar.[25] Metode ini digunakan peneliti untuk memperoleh data tentang kondisi umum Majlis Ta’lim Baabussalam  Sidomoro.
2. Wawancara
        Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi.[26] Dalam metode Wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan penelitian ini dan sifatnya sebagai alternatif dalam penyempurnaan penelitian.
3. Dokumentasi
    Metode Dokumentasi  yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majlah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya[27]. Dokumentasi penulis digunakan untuk memperoleh data kualitatif tentang hal-hal yang berhubungan dengan keadaan subjek penelitian.
E. Teknik Analisa Data
        Teknik analisa data adalah usaha untuk membuat data itu berbicara.. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Pada tahap analisis data, penelitian kualitatif menggunakan prinsip-prinsip logika deduktif-induktif, mula-mula memastikan premis mayor, berargumen untuk memutuskan kasimpulan.[28]
Data kualitatif yaitu data yang disajikan dalam bentuk kata atau kalimat. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif tidak digunakan analisis statistika.
F. Sistematika Skripsi
        Untuk mempermudah dalam mempelajari dan memahami isi skripsi, maka penelitian skripsi ini disusun dalam sistematika sebagai berikut:
1. Bagian awal
    Bagian awal meiputi halaman sampul, halaman judul, halaman pengesahan halaman pernyataan,halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi.
2. Bagian Utama
Bagian Utama skripsi yang merupakan inti skripsi terbagi menjadi beberapa bab diantaranya adalah
     Bab I adalah Pendahuluan yang meliputi Judul Penelitian, Latar Belakang Masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Penegasan Masalah, Penelitian dan Keguanaa penelitian.
Bab II adalah Kerangka Teoritis yang meliputi Landasan Teori vdan Fokus Penelitian
Bab III adalah Metodologi Penelitian yang meliputi Pendekatan penelitian, Desain Penelitiuan, Subjek Penelitian, teknik Pengumpulan Data,Teknik Analisa data dan sistematika skripsi.
Bab IV adalah Hasil Penelitian yang memuat hasil penelitian yang meliputi gambaran umum Majlis Ta'lim Baabussalam Sidomoro, letak geografis, keadaan geografis, keadaan pengurus, keadaan guru, dan Peranan Majlis Ta’lim Baabussalam  Dalam Peningkatan Kualitas keagaman anak-anak di desa Sidomoro Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen serta Usaha-usaha yang dilakukan Majlis Ta'lim Baabussalam dalam meningkatkan aktivitas kehidupan keagamaan di desa Sidomoro.
Bab V Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran saran.
3. Bagian Akhir
Pada bagian ini terdiri dari
Daftar Kepustakaan
Lampiran - lampiran






             [1]Hasbulah, Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hal. 95

[2] Dirjen Pendidikan Islam,Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah  RI  tentang Pendidikan, (Depag, 2006), hal. 6

[3]Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, cetakan kedua  (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 80
                [4] Ibid, hal 81
[5] Suara Masjid (,Ikatan Masjid Indonesia,1988) hal.50
                [7] Kasbulloh, Opcit hal 101.

                [8]Proyek Pengembangan, Bimbingan dan Dakwah/Khutbah Agama Islam Pusat Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Pedoman Pengajian Al Quran bagi anak-anak, ( Jakarta: Proyek Penerangan ,1983), hal. 8

                 [9] Ibid hal 8
[10] Hamdani Ihsan and Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001), hal.235

[11] Chairani Idris and Tasyrifin Karim, Buku Pedoman Pembinaan dan Pembangunan TK Al Quran Badan Komunikasi Pemuda Maskid Indonesia, (Jakarta: DPP BKPMI Masjid Istiqlal kamar 13, 1994), hal. 6

[12]  Proyek Pengembangan, Op.Cit hal. 15
[13] Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam, (Jakarta; Departemen Agama RI,2003), hal.26

 [14] Ibid, hal. 27
    
[15]Hamdani Ihsan and Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001), hal. 232

                [16] Proyek Peningkatan Guru Pendidikan Agama, Psikologi Perkembangan dan Agama, (Jakarta: Departemen agama, 1985), hal.109
[17] Ibid, hal 50

[18]Hamdani Ihsan and Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2001), hal. 114

[19] Ibid, hal. 125
[20] Qudsiyah, Peran Madrasah Diniyah Awaliah Terpadu (MDAT) Darussalam dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan agama Islam di desa Bandung Kabupaten Kebumen (tidak diterbitkan,STAINU,2007), hal.
[21] Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,1998), hal. 20

[22] Ibid, hal. 245

[23] Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet keduapuluh empat (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007) Hal.4
[24] Qudsiyah, Peran Madrasah Diniyah Awaliyah Terpadu (MDAT) Darussalam dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama Islam di desa Bandung kabupaten Kebumen (tidak diterbitkan, satinu,2007),Hal. 23
        [25] Suharsimi Arikunto, Op Cit. hal. 225

        [26] Masri Singarimbun, Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai,(Jakarta: LP3S, 1982), hal.145

        [27] Suharsimi Arikunto, Op.Cit, hal 236

[28] Wardi Bahtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997) hal.24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar